Situbondo, Kamis 19 Januari 2025.
Pengurus Rayon Syari'ah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Melaksanakan kajian dengan tema "GERAKAN ERA BARU PMII STAINH" di Pendopo Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda (STAI Nurul Huda).
Dalam kajian ini Muhammad zayyin selaku wakil ketua rayon syariah menjadi pemantik yang dimoderatori oleh sahabati abida.
Berawal dari harlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda yang ke 13 tahun, Tentunya butuh perubahan terhadap gerakan-gerakan yang sudah berbeda zaman nya.
Dengan kesempatan ini pemantik memaparkan beberapa poin terhadap gerakan era baru, yaitu
1. Kolaborasi internal dan eksternal
Dengan dasar prilaku pengurusan organisasi intra sebelum-sebelumnya dapat dikatagorikan MATI FUNGSI Dan terlalu banyak permasalahan sehingga berdampak terhadap regenerasi selanjutnya. Dengan kolaborasi organisasi ekstra Dengan organisasi intra adalah salah satu metode untuk sahabat sahabat dapat meminimalisir problem yang ada, dan waktunya kader PMII berkontribusi terhadap kampus tercinta.
2. Back to kampus
Suatu kebiasaan yang sampai sekarang masih terlaksana ketika Mahasiswa bergabung organisasi ekstra
Sangat disayangkan lupa terhadap Mata kuliah dan kampusnya, dengan kebiasaan ini menjadi nilai buruk dari akademik terhadap kita, Padahal tanpa menjadi mahasiswa tidak bisa bergabung kepada organisasi ekstra tapi sahabat sahabat lupa kepada induknya
Dengan demikian sudah waktunya bagi kita untuk lebih aktif mengikuti mata kuliah untuk memperbaiki nama baik Kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia terhadap kampus khususnya.
3. Pengembangan intelektual kader
Dengan latar belakang berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda yang bertujuan untuk memperkenalkan kampus kecil yang tidak semua orang mengetahuinya, jangankan kampus luar kota yang tidak tau kampus kita bahkan desa sebelah pun tidak dapat mengetahuinya. Dengan berjalannya 13 tahun berdiri sudah dapat meminimalisir kampus-kampus luar kota bahkan tapal kuda dapat mengetahui kampus kita.
Pada saat sekarang Kader-kader baru bukan lagi memperkenalkan kampus terhadap kampus luar namun untuk menunjukkan kualitas mahasiswa yang mempunyai gedung kecil namun tidak dengan pengetahuannya.
4. Rekrutmen kaderisasi
Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda Adalah salah satu kampus dibawah naungan pondok pesantren Nurul Huda. Tahun-tahun lalu kader pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mayoritas berasal dari pondok pesantren Nurul Huda Yang masih menjadi santri aktif, selang beberapa tahun kemudian prilaku yang bertentangan dengan kegiatan pondok terjadi sehingga berdampak lampu merah kepada santri untuk ikut organisasi bahkan sampai saat ini, dengan masalah yang terjadi regenerasi pada saat sekarang berkomitmen untuk tidak merekrut mahasiswa santri, namun fokus merekrut mahasiswa yang dari luar.
4. Berhak menjadi ketua
Dengan mayoritas kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia berasal dari pondok pesantren Nurul Huda, muncul budaya bahwa untuk menjadi ketua Rayon dan Ketua Komisariat harus alumni Nurul Huda selain alumni tidak boleh menjadi nahkoda, Berhubung dengan minoritas dan lampu merah terhadap mahasiswa santri untuk bergabung organisasi ekstra maka dengan Era baru PMII STAINH, Semua kader berhak menjadi ketua tanpa terkecuali dan dipilih secara (demokratis).
5. Optimalisasi administrasi
Keharmonisan memang diperlukan dalam persahabatan tapi juga berdampak tidak tertibnya administrasi.
Marak-maraknya yang terjadi ketika mendelegasikan anggota untuk mengikuti kaderisasi diluar kota khususnya dalam persaratan, terkadang dengan mudahnya meloby (Sudah selesai di senior) suatu ungkapan yang dangkal.
Tidak hanya terjadi ketika keluar kota saja tapi juga menjadi kebiasaan di internal sendiri, dengan kesempatan kali ini pengurus Rayon Syari'ah dan pengurus Rayon dakwah akan mengoptimalkan dan menekan aktivitas kader yang sesuai administrasi yang tertera.
6. Drascot Mahasiswa
Tidak kaget lagi ketika ke kampus melihat mahasiswa organisatoris yang ke kampus cuman memakai topi, gondrong, pakek kaos dan pakek sandal, sedangkan mahasiswa yang bukan organisatoris memakai sesuai peraturan kampus yang berbasis pesantren, sungguh jauh perbedaannya bahkan tidak hanya satu dua dosen yang sudah menegur.
Dengan penuh kesadaran bahwa kebiasaan itu menciderai kader PMII terhadap kampus mau tidak mau kedepannya harus melaksanakan sesuai peraturan kampus yang ada.
Dengan beberapa poin yg disampaikan oleh pemantik sudah menjadi kesepakatan dan harapan kader kedepannya, semangat baru, gerakan baru, aktifitas baru akan terlaksanakan mulai sekarang.
Budaya yang positif akan tetap dilanjutkan, budaya yang negatif akan kami tinggalkan.
Penulis: yin




Tidak ada komentar: