WHAT’S HOT NOW

ads header
Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

PMII STAINH DATANGI ANTEK ANTEK TAK BERTANGGUNG JAWAB PC PMII Situbondo

Pada 07 Desember 2025, kader PMII STAINH dari komisariat dan rayon berkunjung ke PC PMII Situbondo dalam rangka temu kangen bers...

Cari Blog Ini

Blog Archive

Popular Posts

MENURUNNYA KUALITAS MAHASISWA


Mahasiswa yang kerap di sapa sebagai penyambung lidah rakyat atau lebih tepatnya agen perubahan merupakan salah satu aset terbesar bagi bangsa dan negara. 

Mahasiswa juga di sebut-sebut sebagai generasi penerus,aksi mahasiswa dalam skala besar sangat efektif untuk memberi pengaruh politik,mahasiswa secara tidak langsung sebagai kader penerus bangsa. 

Tidak banyak yang tahu jika peran mahasiswa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dicetuskan pertama kali oleh Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang ditandai kebangkitan bangsa para pemuda. Tidak hanya itu juga, di tanggal 28 Oktober 1928 mahasiswa berperan signifikan dalam proses pembentukan negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka Sumpah Pemuda.

Itu Mahasiswa 90-an
namun, kini mahasiswa dan sarjana tak lagi menjadi barang mewah. Mereka bertebaran di pelosok negeri seiring dengan pesatnya teknologi. Jumlah mahasiswa membengkak, lulusan sarjana membludak. Sayangnya lonjakan kuantitas mahasiswa dan sarjana, tidak dibarengi perkembangan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang mumpuni.

Ada beberapa hal sehingga terjadi menurunnya kualitas mahasiswa pada tahun 20-an
-Rendahnya Minat baca
-Rendahnya minat Menulis dan penelitian
-Persoalan Etika
-Menurunnya Daya kritis terhadap persoalan sosial

#Salam Mahasiswa
#Salam Perubahan
#Salam Pergerakan

MIND

ANALISIS GERAKAN PENGARUH SENIOR


Disetiap organisasi mempunyai AD/ART begitupun di PMII, Dalam aturan rumah tangga oragnisasi pmii disitu sudah banyak poin-poin yang mengatur bagaimana mekanisme yang harus dijalankan di linih organisasi pmii baik dalam secara adminitrasi, atribut, bahkan kegiatan-kegiatan yang harus di laksanakan kepengurusan.
Dalam sebuah organisasi pengkaderan adalah hal yang sangat penting sebab kader adalah penentu masa depan organisasi, kegagalan pengkaderan berarti gagal dalam berorganisasi apalagi jika organisasi itu berbasis gerakan kemanusiaan. Mengingat pentingnya kaderisasi maka setiap organisasi dituntut untuk membina kader berkualitas agar kelak eksistensi dari organisasi tetap terjaga.

Sejatinya kaderisasi mengandung hakikat pendidikan yang memanusiakan dan memerdekakan seperti yang dikatakan Paulo Freire, sayangnya kaderisasi yang demikian terhalang oleh aspek-aspek tertentu yang mengatas namakan kultur. Benar kata Soe Hok Gie bahwa masih terlalu banyak mahasasiswa yang merintih kalau ditekan namun menindas kalau berkuasa, lihat saja bagaimana kemudian selalu menobatkan diri sebagai makhluk yang tidak pernah salah dengan segala pasal pasalnya yang mengingkari kemandirian manusia.

Kaderisasi dari masa kemasa seharusnya beda pola dan tentunya pola-pola yang digunakan adalah yang konteks dengan zaman dan tidak monoton , hal lucu namun tidak layak ditertawakan jika kultur bersifat memaksa meski itu sudah tidak relevan dengan zaman, apalagi jika senior yang purnajabatan diorganisasi masih menyetir dan turun tangan dalam eksekusi pengkaderan, peranan senior purna jabatan memang sangat dibutuhkan dalam berlembaga namun bukan berarti dia punya otoritas untuk menyetir ,tugas senior hanya sebatas memberi masukan,saran dan kritikan atau kalau mau terjun yah jadi pemateri ini lebih bermanfaaat, selebihnya silahkan berikan kewenangan kepada fungsionaris lembaga untuk menjalankan sebagaimana konsep yang diusung, jika pun hal-hal demikian dilakukan karena ketakutan berlebih maka ku katakan berhenti berteriak di muka toa mengkritik birokrasi jika kau masih takut mengkritik senior ingat seperti birokrasi senior juga bukan Tuhan yang selalu benar

Berbagai macam fenomena didapati saat pengkaderan mulai dari dihukum ala militer, kata-kata kasar sampai pemukulan gaya preman, maaf jika sedikit keras dalam penyampaian ini namun ini bentuk kepeduliaan penulis terhadap organisasi apalagi yang notabenenya pergerakan. Banyak dalih yang dilemparkan untuk itu mulai dari membentuk mental sampai yang paling bantet menjaga kultur.

Berbicara tentang kultur saya heran mengapa yang dipertahankan selalu kultur gaya militer? entah ini hanya kebetulan atau jangan jangan ini hanya ajang balas dendam yang berkedok kultur karena hemat penulis budaya literasi yang lebih urgen dipertahankan justru semakin kendor dari hari kehari bahkan fungsionaris lembaga semakin banyak yang hanya bangga memamerkan buku bacaan dibanding membacanya. menyoal mental katanya kaderisasi cara keras dapat melatih mental kader, pertanyaannya kemudian mental seperti apa yang ingin dibentuk? mental penakut atau mental kerupuk? kita tidak butuh kader penakut namun kader pemberani jika sedari dini kita sudah mengajarkan membelok yah jangan salah jika nantinya mereka menjadi penjilat bahkan penjahat.

Kaderisasi butuh ketegasan dan keseriusan namun tidak berarti kekerasan apalagi di era sekarang dimana mahasiswa dicekoki untuk anti senior dengan bertindak keras maka kader di jamin akan lari dan selamat datang di kehancuran organisasi ,tapi ingat jangan sesekali memanjakan kader sebab memanjakan berarti membenarkan kesalahan mereka dan bisa jadi kader menjadi kurang ajar atau bahasa kerennya  jadilah sosok senior yang disegani bukan ditakuti sebab idealnya pengkaderan adalah memperbaiki kesalahan bukan menyalahkan

Jangan sampai kita hanya menjadi budak yang disekolahkan tanpa pernah dimerdekakan
Bangkit berjuang menjemput perubahan MERDEKA !

Ihsan Mutawaqil